Kurban Sebagai Titik Awal Solidaritas
Kurban bukan hanya kurban saja tapi konteks dari korban harus dimaknai secara luas. Di hari raya Idul Adha ini merupakan titik awal diri kita untuk mengintegrasikan kembali nilai-nilai solidaritas yang mulai pudar yang disebabkan oleh hedonisasi dan materialisme yang menjalar dalam perilaku budaya masyarakat. Demikian peryataan Taufan Maulamin, tokoh ekonomi Islam dari Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Mandala Indonesia (STIAMI) – Jakarta, ketika memaknai kurban di hari raya ini.
Maka dari itu, Taufan berharap di hari raya ini, semangat Ibrahim menjadi keteladanan umat dalam kecintaannya pada Allah SWT. Seperti apakah itu? Agus Yuliawan dari pkesinteraktif.com berbincang-bincang dengannya, berikut komentarnya:
Bagaimana Anda memaknai makna kurban di hari raya Idul Adha ini?
Saya rasa ada sesuatu yang lain di bulan ini, yaitu menyembelih kecintaan kepada selain Allah dan pada Idul Adha ini kita diingatkan kembali peristiwa sejarah Nabi Ibrahim yang diuji imanya untuk menyembelih anaknya atas perintah Allah SWT. Dalam kurban inilah nilai-nilai ketauhidan diri kita dikembalikan. Sosok Ibrahim telah melopori ketauhid pada Allah SWT sebagai bukti kecintaannya pada Tuhan.
Apa makna substansi yang bisa diraih dalam ibadah kurban ini?
Makna substansi seperti yang saya jelaskan yaitu ketauhidan; mencintai selain Allah. Jadi ibadah ini bukan hanya dipahami secara simbolik dan ritual saja.
Bagaimana Anda mengartikan kurban ditengah nilai-nilai solidaritas umat yang mulai luntur?
Saya sependapat tentang itu, bahwa kurban bukan hanya kurban saja tapi konteks dari korban harus dimaknai secara luas. Di hari raya Idul Adha ini merupakan titik awal diri kita untuk mengintegrasikan kembali nilai-nilai solidaritas yang mulai pudar yang disebabkan karena hedonisasi dan materialisme yang menjalar dalam perilaku budaya masyarakat.
Bisakah diartikan kurban sebagai ajaran pemberdayaan umat, bagi pelaku agama?
Iya saya sependapat dengan itu dan seharusnya saat diperlukan sebuah paradigma baru dalam memaknai kurban saat ini. Saya rasa sudah banyak pelaku-pelaku sosial di Indonesia mencoba mensinergikan antara kurban dengan pemberdayaan masyarakat dalam bentuk bagaimana tradisi kurban dilakukan dan didistribusikan di komunitas masyarakat marginal. Semua itu menurut saya kembali pada individu-individu dalam memaknai kurban, apakah bersifat simbolis atau substansi.
Menurut Anda apa yang harus dilakukan oleh pemimpin umat dalam mengarahkan umatnya, bahwa kurban sebuah sintesis pemberdayaan umat.
Saya rasa pemimpin umat juga harus tulus dan ikhlas dalam berbuat dan tidak selalu mengkaburkan makna dan pengertian kurban secara ritual saja. Pemimpin umat harus selalu kreatif untuk mencari dimana umat yang tak berdaya dan harus di tolong dan disayangi. Para agamawan lainya seperti di Bunda Teresa telah mampu berbuat demikian, mengapa kita yang Muslim dan memiliki ajaran sangat luas mengenai cinta dan kasih saying sulit untuk menerapkan. Nah disinilah awal dari pemberdayaan umat secara universal.
Jika demikan makna kurban sangat luas sekali dan Islam sebagai agama pembesan?
Saya rasa benar. Kepedulian dengan orang miskin (dhuafa) sangat berarti sekali dan agama Islam benar-benar membebaskan mereka dari kelas sosial tersebut. Hal ini saya rasa bisa terwujud jika nilai-nilai solidaritas antar sesama bisa terwujud.
Bagaimana Anda menggeser pola pemikiran tersebut menjadi sebuah pemikiran agenda umat bersama?


