Pensucian Hati
Oleh:
*Taufan Maulamin, SE, Ak, MM
Sesungguhnya seluruh kekuasaan hanyalah milik Allah SWT, sehingga segala puji dan syukur wajib kita panjatkan hanya kepada Allah SWT. Semesta cinta dan debur kerinduan anak manusia kepada Nabi tercinta, Rasulullah Muhammad SAW. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada beliau, para sahabat, dan keluarganya, serta orang-orang yang selalu istiqomah dalam meniti jalan dakwahnya. Semoga kita semua senantiasa diberi kekuatan dan keteguhan hati untuk meneladani beliau hingga akhir hayat, Amin.
Kesadaran terhadap kondisi pribadi baik secara moral maupun spiritual merupakan mutiara yang jarang dimiliki manusia. Krisis demi krisis yang setiap hari kian menyeret dalam lubang keterpurukkan, semakin meredupkan cahaya keimanan dalam hati masyarakat. Kekacauan yang multi dimensi merembas masuk hampir ke seluruh sektor kehidupan merupakan indikasi atas matinya hati nurani. Harus diakui, ternyata kita tidak setangguh orang tua kita dulu dalam menghadapi tantangan dan badai krisis.
Apa yang mereka hadapi pada zaman dulu tentu lebih sukar dari pada apa yang kita hadapi pada saat ini. Tetapi mereka berhasil berdiri dengan teguh dan dapat mengatasi masalah secara tegas dan tuntas. Sebab mereka tidak pernah mau menukar mutiara iman dalam hati dengan apapun. Tujuan hidup mereka hanya untuk memenuhi kehendak dan perintah Allah SWT. Dan mereka yakin, disitulah kunci solusi bagi seluruh permasalahan.
Firman Allah SWT (Surat At-Thalaq 65; 2-3):
2. Apabila mereka Telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu Karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
3. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
Kita berupaya untuk menegur dan membangunkan kesadaran secara tuntas untuk menghidupkan cahaya keimanan, keikhlasan dan ketakwaan yang semakin sirna. Cahaya itulah yang kita bawa sebagai bekal untuk bertemu Allah kelak. Jika hati ini busuk dan gelap, bagaimana mungkin kita dapat mempersembahkannya kepada Allah SWT. Cahaya dan wewangian yang berasal dari perenungan mendalam, dapat menjadi suluh penerang menuju akhirat, Amin.
Jika kita ingin menjadi orang yang shaleh dan bergairah dalam ibadah dan menjadi hamba yang benar-benar dicintai Allah, maka kita wajib menyadari pengawasan Allah terhadap diri kita setiap saat. Dengan mata hati, kita meyakini sedalam-dalamnya bahwa Allah adalah Tuhan yang menciptakan kita. Alah adalah satu-satunya Tuhan yang kita sembah dan tempat memohon. Itulah Tuhan yang Maha Mengetahui tentang keadaan diri kita, baik lahir maupun batin. Allah senantiasa melihat dan memperhatikan seluruh gerak-gerik kita, baik kita melakukan ketaatan kepada-Nya atau ketika sedang berbuat maksiat terhadap-Nya. Baik di tengah keramaian manusia atau sedang bersunyi sendirian. Seluruhnya berada dalam pengawasan Allah SWT.
Sesungguhnya kekuasaan-Nya itu dapat diganjarkan kepada siapa saja. Tidak ada halangan bagi Allah untuk mengazab dengan berbagai macam azab jika kita memang telah bermaksiat terhadap-Nya. Juga tidak ada halangan bagi Allah untuk memberikan berbagai macam kenikmatan, jika kita mentaati-Nya. Tidak ada sesuatu apapun yang dapat dijadikan sebagai tempat bersembunyi dari pengetahuan Allah.
Jika kita senantiasa merasa diperhatikan Allah dan melihat Allah dengan mata batin kemudian kita tingkatkan sehingga menjadi kenyataan dalam hidup serta dapat pula beristiqomah di dalamnya, maka ketika itu timbul perasaan ‘takut’ dan ‘harap’ terhadap Allah SWT. Rasa takut dan harap merupakan dua komponen utama yang sangat diperlukan bagi kesempurnaan dan keikhlasan ibadah kita kepada Allah. Ketika itu barulah ringan rasanya untuk melaksanakan ibadah dan setiap gerakan ibadah merupakan kenikmatan tersendiri. Jika kita melakukan ibadah dengan hati yang sadar, maka kita tentu akan merasa takut dan harap kepada-Nya.
Membangkitkan rasa pengawasan Allah terhadap diri kita, antara lain dengan cara:
a. Merenungi asal kejadian.
b. Perbanyak zikir.
c. Menghisab diri.
d. Jauh dari perintah nafsu.
e. Mengekang hawa nafsu.
f. Memperhalus rasa malu.
g. Segera bertaubat.
h. Mengingat maut.
i. Menyadari pedignya maut.
*Direktur Program Pascasarjana Universitas Islam Azzahra dan Wakil Ketua Senior STIAMI Jakarta



pak taufan
saya kirim artikel mengenai refutasi marx per mail, kalau boleh di upload pada blog ini, dan buka koment dari blogger lain
tks
zul azmi sibuea